Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya”

Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Di samping alasan tawassul sebagaimana telah disinggung pada edisi yang lalu, alasan lain bagi para penyembah kubur adalah mengharapkan pembelaan dan syafaat. Seakan-akan mereka lebih mengetahui dari Allah dan Rasul-Nya tentang syafaat.

Hal ini persis seperti alasan kaum musyrikin jahiliyah semasa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam diutus. Padahal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan akan hal itu? Bahkan beliau melarang umatnya dari perbuatan-perbuatan seperti itu. Apakah mereka mau mengajari Allah tentang agama ini?! Ingatlah! Agama ini milik Allah. Untuk itu seluruh amalan, bentuk dan tata cara ibadah sudah seharusnya sesuai dengan aturan dari Allah dan utusan-Nya

Perhatikan firman Allah berikut:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاَءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لاَ يَعْلَمُ فِي السَّمَوَاتِ وَلاَ فِي اْلأَرْضِ سُبْحَانَه ُوَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ. يونس: 18

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan (itu).” (Yunus: 18)

Ketahuilah, bahwa syafaat atau pembelaan memang diakui keberadaannya. Hal itu akan terjadi pada hari kiamat kelak, khususnya pembelaan dan syafaat dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang dikenal dengan syafa’atul udzma. Namun harus kita ketahui bahwa syafaat dan pembelaan terhadap seseorang di hadapan Allah tidak mungkin akan terwujud kecuali dengan seizin Allah. Demikian pula tidak mungkin seseorang mendapatkan syafaat atau pembelaan dari orang lain kecuali dari orang-orang yang diridlai oleh Allah Azza wa Jalla.

Allah Azza wa Jalla memerintahkan agar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan manusia akan adanya hari perhitungan dan hisab, dimana pada hari itu tidak bermanfaat syafa’at dan pembelaan siapapun.

وَأَنْذِرْ بِهِ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْ يُحْشَرُوا إِلَى رَبِّهِمْ لَيْسَ لَهُمْ مِنْ دُونِهِ وَلِيٌّ وَلاَ شَفِيعٌ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ. (الأنعام: 51

“Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafaat pun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa.” (al-An’am: 51)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa mereka yang tidak mau mengindahkan peringatan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam akan diadzab dan tidak akan ada seorang pun yang dapat membelanya. Dalam ayat ini pula seakan-akan menunjukkan tidak adanya syafa’at pada hari kiamat. Namun yang dimaksud adalah tidak adanya syafaat bagi orang-orang kafir atau orang-orang yang tidak diberikan izin dan keridlaan dari Allah.

Di dalam ayat lain Allah menyatakan bahwa syafaat seluruhnya milik Allah. Oleh karena itu janganlah dengan alasan tersebut mereka meminta kepada kuburan-kuburan orang-orang shalih atau berdoa kepada orang mati. Berdoa dan mintalah kepada Allah, karena Dia-lah yang telah menentukan siapa yang boleh memberikan pembelaan dan siapa yang diridlai untuk mendapatkan pembelaan.

أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ شُفَعَاءَ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لاَ يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلاَ يَعْقِلُونَ. قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ. الزمر: 44

“Bahkan mereka mengambil sesembahan selain Allah sebagai pemberi syafa’at. Katakanlah: “Apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?” Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” (az-Zumar: 43-44)

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلاَ شَفِيعٍ أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ. السجدة: 4

“Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari padaNya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (as-Sajdah: 4)

Adapun jika dalam al-Qur’an terdapat ayat dan dalil-dalil yang menetapkan adanya syafaat, maka yang dimaksud adalah syafaat yang terjadi setelah mendapatkan izin dari Allah Azza wa Jalla:

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ. البقر: 255

“Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya?” (al-Baqarah: 255)

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَوَاتِ لاَ تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلاَّ مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى. النجم: 26

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (an-Najm: 26)

Dalam ayat kursi, ayat teragung dalam kitab Allah di atas, secara umum dinafikan adanya syafaat kecuali bagi orang-orang yang telah diizinkan. Sedangkan dalam surat an-Najm dijelaskan bahwa malaikat pun tidak dapat memberikan syafaat kecuali setelah diizinkan oleh Allah dan diperuntukan bagi orang yang diridlai-Nya.

Dari dua ayat di atas, jelaslah bahwa syafaat itu hanya milik Allah semata. Tidak ada yang berhak memberikan syafaat kecuali dengan seizin-Nya dan tidak akan mendapatkan syafaat kecuali orang yang diridlai-Nya. Untuk itu, bagi seorang yang cerdas dia hanya akan meminta syafaat kepada pemiliknya. Meminta kepada Allah syafaat nabi-Nya dan syafaat atau pembelaan para malaikat-Nya dan seterusnya.

Adapun meminta kepada selain Allah untuk mendapatkan pembelaan di hari kiamat, maka ini adalah inti dari kesyirikan yang terjadi pada zaman jahiliyah yaitu zaman kebodohan. Biasanya, alasan kaum musyrikin menyembah sesuatu, baik kuburan, orang yang telah mati, tempat-tempat atau benda-benda yang dianggap keramat dan lainnya adalah karena menganggap sesembahan tersebut memiliki apa yang mereka minta, atau dianggap ikut andil dalam memiliki, atau dianggap yang ikut membantu dan bekerjasama dengan pemiliknya, atau dianggap dapat membelanya di hadapan sang pemilik pada hari kiamat kelak.

Semua alasan dan anggapan tersebut ditiadakan dan dibantah oleh Allah Azza wa Jalla dalam ayat-Nya:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ. وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ… سباء: 22-23

“Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi. Dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu…” (Saba’: 22-23)

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Allah Azz wa Jalla telah memutus semua alasan-alasan yang dipegang oleh kaum musyrikin. Seorang musyrik mengambil sesembahannya hanyalah karena apa yang diharapkannya dari manfaat. Sedangkan manfaat tersebut tidak akan didapati, kecuali jika sesembahan tersebut memiliki salah satu dari empat kriteria:
1. Bisa jadi karena sesembahan tersebut di-anggap pemilik dari apa yang diinginkan oleh penyembahnya.
2 Sesembahan tersebut dianggap bersekutu dengan pemiliknya (Allah).
3. Sesembahan tersebut dianggap sebagai pembantunya.
4. Sesembahan tersebut dianggap dapat menjadi pembelanya di hadapan sang pemilik.
Maka Allah meniadakan keempat alasan tersebut dengan peniadaan yang berurutan, berpindah dari yang paling tinggi kepada yang di bawahnya. Pertama, Allah membantah adanya pemilik selain Dia. Kemudian meniadakan adanya sekutu yang bersekutu dengan-Nya. Kemudian meniadakan pula adanya pembantu bagi Allah dan terakhir meniadakan pula syafaat yang diharapkan oleh si musyrik tersebut. Setelah itu Allah menetapkan adanya syafaat, dimana kaum musyrikin tidak akan mendapatkan bagian daripadanya. Yaitu syafaat orang yang diizinkan untuk orang yang diridlai.

Yang berhak memberikan syafaat

Kalau begitu siapakah yang paling mulia mendapatkan izin dari Allah Azza wa Jalla untuk memberikan syafaat? Dan siapakah yang paling berbahagia mendapatkan keridlaan dari Allah sehingga mendapatkan syafaat dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam?

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling mulia yang diizinkan oleh Allah untuk memberikan syafaat dikala orang-orang lain tidak sanggup untuk melakukannya. Inilah syafaat yang paling besar, dimana para rasul yang termasuk ulul azmi pun tidak sanggup memikulnya pada saat seluruh manusia meminta kepada para nabi untuk memintakan keringanan di hadapan Allah di padang mahsyar yang sangat berat. Mereka semuanya menolak dan mengatakan: “nafsi nafsi” (diri-ku, diriku). Hingga akhirnya ketika mereka mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Ana laha” (itulah bagianku). Kemudian Rasulullah sujud di hadapan Allah, di bawah Arsy-Nya. Beliau memuji Allah dan menyanjungnya dengan pujian-pujian yang tidak pernah diucapkan sebelumnya oleh siapapun. Hingga kemudian Allah berfirman:

يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَاسْأَلْ تُعْطَهُ وَاشْفَعْ تُشَفَّعُ

“Ya Muhammad angkatlah kepalamu, mintalah akan Aku beri dan berilah syafaat Aku akan memberikannya.”

Maka Rasulullah pun mengangkat kepalanya dan berkata: “Umatku, umatku”. Kemudian diperintahkan dengan segera kepada orang-orang dari umatnya yang tidak ada hisab padanya untuk masuk ke dalam surga.

Beliau melakukannya lagi, hingga diizinkan untuk memberikan syafaat. Beliau meminta agar disegerakan bagi ahli surga dari umatnya untuk segera memasukinya.
Selanjutnya Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya kembali dan kemudian beliau memberikan syafaat bagi para pelaku maksiat dari umatnya yang seharusnya mendapatkan adzab dalam neraka untuk tidak memasukinya.

Kemudian beliau memberikan syafaat kepada orang-orang yang telah masuk neraka, namun masih memiliki tauhid dan keimanan untuk diselamatkan dari api neraka. Yang terakhir, syafaat Rasulullah untuk penduduk surga agar ditambahkan pahala mereka dan diangkat derajat mereka.

Hadits-hadits tentang syafaat ini mutawatir dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan lain-lainnya.

Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa seluruh syafaat dan pembelaan Rasulullah tersebut diberikan kepada orang-orang yang bertauhid dan tidak melakukan kesyirikan-kesyirikan. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang shahih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ketika beliau bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ أَسْعَدَ النَّاسُ بِشَفَاعَتِكَ؟ قَالَ: مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهِ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ. (أخرجه البخاري والنسائ وأحمد

“Siapakah orang yang paling berbahagia mendapatkan syafaatmu? Beliau menjawab: “Orang-orang yang mengucapkan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهِ dengan ikhlas dari hatinya”. (HR. Bukhari , Nasai dan Imam Ahmad)

Seorang yang ikhlas mengucapkan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهِ adalah mereka yang tidak merusak kalimat tersebut dengan kesyirikan-kesyirikan. Sebagaimana dalam riwayat lain dikatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ. فَتَجْعَلْ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّيْ اخْتَبَأْتُ شَفَاعَةً ِلأُمَّتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِِ. فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ الله مَنْ مَاتَ لَمْ يُشْرِكْ بِاللهِ شَيْئًا. (أخرجه مسلم

“Setiap nabi memikiki doa yang dikabulkan, dan mereka telah menyebutkan doa tersebut, sedangkan aku menundanya sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat. Maka syafaat ini pasti akan didapatkan insya Allah oleh orang yang mati dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun.”(HR. Muslim dalam Shahihnya)

Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang meminta syafa’at kepada kuburan-kuburan para nabi atau pada kuburan orang-orang yang shalih justru tidak akan mendapatkan syafa’at karena perbuatan syiriknya tersebut.

Sumber:
http://firqatunnajiyah.wordpress.com/

Gallery | This entry was posted in Aqidah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s