Sedikit Di Atas Sunnah Lebih Baik Daripada Banyak Di Atas Bid’ah

Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Ifrath adalah sikap ghuluw yaitu berlebih-lebihan dalam beramal dan melampaui batas-batas sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sampai tercebur ke dalam berbagai macam bid’ah yang sama sekali tidak terdapat dalam Al-Qur’an, tidak tersebut dalam As-Sunnah dan tidak pula dikenal oelah para shahabat radlyiallahu ‘anhum. Dan orang yang beramal dengan sikap ifrath ini, mereka mengerjakannya dalam keadaan yakin bahkan sangat yakin bahwa hal ini adalah taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah.

Maka bagaimana kiranya mereka akan bertaubat? Dalam riwayat yang shahih Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menghalangi taubat setiap pelaku kebid’ahan.” (HR. Baihaqi, Thabrani, dan lain-lain)

Karena hadits ini mungkin baru bagi kita maka perlu kiranya kita perhatikan keterangan Syaikh Al-Albani tentang keshahihannya. Beliau berkata : “Sanad (hadits) ini shahih. Dan para perawinya terpercaya (tsiqah) termasuk para perawi (yang dipakai) oleh dua syaikh (Bukhari dan Muslim), kecuali Harun bin Musa, yaitu Al-Farawi. Berkata An-Nasai dan diikuti oleh Al-Hafidz (Ibnu Hajar) dalam At-Taqrib: “Dia tidak mengapa (la ba’sa bihi).” Berkata Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid 10/189: “Diriwayatkan oleh Thabrani dalam Al-Ausath dan para perawinya termasuk perawi kitab shahiha’in (Bukhari Muslim), selain Harun bin Musa Al-Farawi. Tetapi diapun tsiqah. Berkata Al-Mundziri dalam At-Targhib 1/45: “Diriwayatkan oleh Thabrani dengan sanad HASAN. (Lihat Silsilah AL-Ahadits Ash-Shahihah oleh Syaikh Al-Albani jilid 4 hal.154 hadits no.1620)

Demikianlah bahaya bid’ah yang kebanyakan disebabkan oleh sikap ghuluw. Allah akan menjauhkan dan menghalangi pelakunya dari taubat. Dan inilah yang menyebabkan para ulama menyatakan bahwa pelaku bid’ah tidak akan berpindah, kecuali kepada yang lebih jelek daripadanya sebagaimana dinukil oleh Imam As- Syathibi dalam Al-I’tisham diantaranya :

Dari Yahya bin Abi Amr Asy-Syaibani bahwa dia berkata : Bahwasanya dikatakan : “Allah enggan dengan taubat setiap pelaku bid’ah dan tidaklah berpindah pelaku bid’ah kecuali kepada bid’ah yang lebih jelek.

Dan yang seperti itu dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa dia berkata : “Tidaklah seseorang berada di atas suatu pendapat dari kebid’ahan kemudian meninggalkannya, kecuali berpindah kepada yang lebih jelek dari itu.”

Juga dari Ibnu Syaudzab dia berkata: “Aku mendengar Abdullah Ibnul Qasim berkata: Tidaklah seorang hamba berada di atas Al-Hawa (kemudian) meninggalkannya, kecuali berpindah kepada sesuatu yang lebih jelek daripadanya. (Atsar-atsar di atas dinukil dari kitab Al-I’tisham oleh Imam Asy-Syathibi 1/12-163 dengan tahqiq Syaikh Salim Al-Hilali).

Demikianlah keadaan Ahli Bid’ah yang menambah-nambah Dien ini dengan syariat- syariat baru, aturan ibadah baru, penilaian baru, anggapan baru, keyakinan baru, cara berdakwah baru, dan perkara baru yang lain yang tidak pernah dikenal oleh para shahabat, tabi’in maupun tabiut tabi’in. Memang bisa jadi mereka berniat baik, tetapi melampaui batas dan berlebih-lebihan hingga keluar dari sunnah. Inilah ghuluw. Kalau seseorang sudah menganggap baik (istihsan) perkara-perkara yang muhdats (bid’ah), sunguh sangat tipis harapan untuk bertaubat. Berkata Imam As- Syatibi setelah menukil atsar dan hadits di atas : “…jika seorang pelaku bid’ah keluar darinya (ruju’) maka sesungguhnya dia keluar kepada yang lebih jelek daripadanya sebagaimana dalam hadits Ayyub. Atau dia termasuk yang menampakkan seakan- akan rujuk padahal setelah itu dia tetap berada di atas kebid’ahan tersebut seperti kisah Ghailan bersama Umar bin Abdul Aziz. (Al-I’tisham 1/163)

Yang dimaksud dengan hadits Ayyub adalah sebagai berikut: Dari Ayyub dia berkata : “Ada seseorang berpendapat dengan suatu pendapat (yang bid’ah, pent) kemudian rujuk, maka aku mendatangi Muhammad dengan gembira karena itu, untuk mengabarkan kepadanya. Aku mengatakan : “Tidakkah engkau merasa senang bahwa si fulan telah meninggalkan pendapatnya yang pernah diucapkannya?” Maka dia berpendapat: “Lihatlah ke mana dia berpindah? Sesungguhnya akhir hadits lebih dahsyat dari awal hadits atas mereka: Mereka keluar dari Dien…kemudian tidak akan kembali (kepadanya). (Al-I’tisham 1/163) (Yang dimaksud adalah hadits tentang khawarij yang diriwayatkan oleh Muslim).

Sedang kisah Ghailan adalah sebagai berikut: “Diriwayatkan oleh Amru bin Muhajir: “Sampai berita kepada Umar bin Abdul Aziz bahwa Ghailan Al-Qadari berbicara tentang taqdir. Maka beliau mengutus seseorang kepadanya dan memenjarakannya beberapa hari. Kemudian dia dihadapkan kepada Umar bin Abdul Aziz dan beliau berkata: “Berita apa yang sampai kepadaku ini tentangmu?” Berkata Amir bin Muhajir (periwayat): Aku isyaratkan kepadanya agar tidak berbicara sesuatupun. Tetapi dia (Ghalian) berkata : “Ya! Wahai Amirul Mukminin. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Bukankah telah datang atas manusia suatu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya, oleh karena itu Kami menjadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya kepada jalan itu. Ada yang bersyukur, adapula yang kufur. (Al-Insan: 1-3) (Maksudnya dia menolak taqdir dengan ayat ini, pent).

Maka berkatalah Umar bin Abdul Aziz: “Bacalah sampai akhir surat.” “Dan tidaklah kalian berkehendak (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya dan bagi orang-orang yang dhalim disediakan adzab yang pedih.” (Al-Insan:30-31)

Kemudian berkata: “Apa yang akan kamu katakan wahai Ghailan?” Dia menjawab: “Aku katakan, aku dahulu buta dan engkau telah membuat aku melihat. Aku dahulu tuli dan engkau telah membuat aku mendengar. Dan aku dulunya sesat dan engkau telah menunjukiku. “Maka berkatalah Umar rahimahullah : “Ya Allah, jika benar hamba-Mu Ghailan jujur, kalau tidak saliblah dia.” Setelah itu Ghailan berhenti dari ucapannya tentang taqdir hingga meninggallah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah. Kemudian khilafah berpindah ke tangan Hisyam rahimahullah. Maka mulailah Ghailan berbicara tentang taqdir. Kemudian Hisyam mengutus seseorang kepadanya dan memotong tangannya. Ketika itu lewatlah seseorang sedangkan lalat hinggap di tangan Ghailan maka berkatalah dia: “Wahai Ghailan! Ini adalah qadla dan qadhar (takdir)!” Dia berkata: “Engkau berdusta, demi Allah! Ini bukanlah qadla dan qadar.” Ketika Hisyam mendengarnya dia mengutus kembali utusannya dan menyalibnya. (Dinukil secara makna dari Al-I’tisham 1/85-86)

Demikianlah para pelaku bid’ah, jauh dari taubat dan berakhir dengan su’ul khotimah. Wal’iyadzubillah. Kiranya cukup yang demikian bagi kita untuk berhati- hati dari bid’ah dan beramal dengan sunnah. Berkata para salafus shalih, “Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh (tetapi) dalam bid’ah”.

Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid berkata: “Kalimat emas ini telah shahih riwayatnya dari shahabat, tidak hanya seorang. Seperti diantaranya Abu Darda dan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhuma. Sebagaimana dalam kitab Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah hal.114-115, Kitab As-Sunnah oleh Ibnu Nashr hal.27-28 dan Kitab Al-Ibanah oleh Ibnu Baththah 1/320 dan lain-lain.” (Lihat Ilmu Ushulil Bida’ oleh Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid hal 55)

Demikianlah kalimat yang memberikan manhaj besar bagi seorng muslim. Dalam amalan dan ucapannya agar selamat dari ghuluw dan diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amalan yang paling baik bukan yang paling banyak. Sedangkan yang paling baik adalah yang paling cocok dngan sunnah. Allah berfirman, “Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian siapa yang terbaik amalannya. (Al-Mulk:2)

Fudlail bin Iyadl berkata: “Yang paling baik amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar (cocok dengan sunnah,pent).” Diriwayatkan pula dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu bahwa dia berkata: “Sesungguhnya sederhana di atas jalan dan sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam menyelisihi jalan dan sunnah, maka lihatlah jika amal kalian sederhana atau sungguh-sungguh hendaklah berada di atas manhaj para nabi dan sunnah mereka shalallahu ‘alaihi wa sallam.” (Al-Lalika’I dalam Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah 1/54 no.10)

Dengan ucapan beliau di atas jelas bahwa maksud ucapan para shahabat bukanlah agar kita sedikit mengamalkan sunnah, tapi agar berhati-hati dari sikap ghuluw, yaitu berlebih-lebihan dalam ibadah hingga keluar dari sunna dan masuk ke dalam berbagai macam bid’ah. Lebih baik sedikit tetapi di atas sunnah daripada beramal dengan bidah-bid’ah walaupun sangat banyak dan besungguh-sungguh. Bahkan tidur dengan cara sunnahlebih baik bangun malam dengan cara bid’ah, sebagaimana dikatakan oleh Abul Ahwash rahimahullah ketika berkata pada dirinya, “Wahai Sallam (nama beliau), tidur di atas sunnah lebih baik daripada engkau bangun di atas bid’ah”.

Demikian semoga Allah menjaga kita dari ghuluw dan melampaui batas-batas sunnah dan memberikan taufiq kepada kita dan seluruh kaum muslimin kepada jalan yang lurus, beramal dengan sunnah dan selamat dari bid’ah. Amiin..*

Dari Majalah Salafy Edisi VII

Gallery | This entry was posted in Manhaj. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s